Peluang usaha beternak ayam pedaging


Ayam pedaging

Ayam pedaging sudah menjadi makanan favorit di negara kita, hal ini terlihat  dari fakta bahwa hampir 100% penduduk Indonesia menyukai daging ayam atau makanan yang berasal dari daging ayam pedaging. Lalu, bagaimana dengan peluang bisnis ayam pedaging?

Beternak ayam pedaging merupakan peluang yang sangat bagus untuk dikembangkan. Beberapa waktu yang lalu, bisnis ayam pedaging sempat mengalami kemunduran ketika flu burung melanda dunia. Banyak pengusaha ayam pedaging yang gulung tikar karena daging ayam menjadi “tersangka” utama sehingga menyebabkan orang takut mengkonsumsi daging ayam lagi.

Sekarang isu flu burung sudah perlahan menghilang dan bisnis ayam pedaging mulai menguat kembali.

Peluang pasar  ayam pedaging

Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai daging ayam, konsumennya pun tersebar mulai dari anak – anak, anak muda, hingga orang tua. Selain itu banyak restoran atau warung makan yang menggunakan daging ayam sebagai bahan baku usaha mereka. Jadi selain konsumen perorangan, usaha ini juga memiliki peluang kerjasama dengan usaha yang berbahan baku  ayam pedaging. Selain itu banyak juga masyarakat yang tertarik dengan bisnis peternakan ayam pedaging ini, penjualan bibit ayam pun juga dapat dijadikan sebagai tambahan pendapatan usaha tersebut.

Anda ingin sukses dengan beternak ayam pedaging yang efektif, anda hanya perlu baca tulisan berikut ini:

Beternak ayam pedaging (Broiler)

Ayam Pedaging (Broiler) adalah salah satu jenis ayam ras yang dapat berkembang dan tumbuh sangat cepat hingga bisa memproduksi/ menghasilkan daging dalam waktu sangat cepat (5-7 minggu). Ayam pedaging (Broiler) punya peranan yang sangat vital sebagai salah satu sumber protein hewani.

Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit ayam pedaging yang baik sangat mempengaruhi hasil prodksi. Bibit ayam pedaging yang baik memiliki cirri-ciri sebagai berikut : tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat , sehat dan aktif bergerak, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih

Kondisi Ideal Kandang Ayam Pedaging
Lokasi kandang Ayam Pedaging
Kandang ayam pedaging yang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, tetapi mudah dijangkau sarana transportasi, ada sumber air yang bersih dan cukup, arahnya membujur dari barat ke  timur.
Sirkulasi udara dalam kandang ayam pedaging.
Ayam pedaging bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
Suhu udara dalam kandang ayam pedaging.
Suhu ideal kandang untuk ayam pedaging sesuai umur adalah sebagai berikut :

Umur (hari) Suhu ( 0C )
01 – 07 34 – 32
08 – 14 29 – 27
15 – 21 26 – 25
21 – 28 24 – 23
29 – 35 23 – 21

Kemudahan mendapatkan sarana produksi
Sangat disarankan Lokasi kandang ayam pedaging sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan. Hal ini untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan ayam pedaging, baik berupa pakan, obat-obatan, peralatan pendukung dll.

Teknis Pemeliharaan ayam pedaging
Perkembangan
Jenis kandang ayam pedaging ada dua, yaitu bentuk panggung (ada jarak antara tanah dengan lantai dasar kandang) dan tanpa panggung (litter). Kelebihan dari tipe panggung adalah lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah dan mudah dibersihkan, tidak membutuhkan alas kandang sehingga mempermudah pengelolaan serta lebih hemat biaya, tetapi biaya pembuatan kandang secara keseluruhan lebih besar. Pada umumnya tipe litter lebih banyak dipakai peternak ayam pedaging, karena lebih mudah dibuat dan lebih irit bahan untuk pembuatan kandang.
Langkah awal pemeliharaan ayam pedaging sangat penting diperhatikan karena pada masa ini kondisi ayam masih sangat lemah, kandang ayam diusahakan diselimuti dengan plastik untuk menjaga suhu udara kandang tetap hangat, sehingga energi yang dari pakan ternak seluruhnya dimanfaatkan untuk pertumbuhan anak ayam, bukan untuk menghasilkan panas tubuh.

Kepadatan kandang ayam pedaging yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.

Pakan
Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap 1 : disebut tahap pembesaran ayam pedaging (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap 2 : disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya.

Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).
Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.

Contoh perhitungan :
Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :
Berat total ayam hasil panen =
1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi).

Vaksinasi
Vaksinasi dilakukan dengan memasukkan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menumbuhkan kekebalan alami pada ayam pedaging. Vaksinasi yang sangat penting dilakukan yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilakukan  pada umur 4 hari dengan cara tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta dengan cara  suntikan atau melalui air minum.

Teknis Pemeliharaan
Hari ke-1-7

Pada tahap ini kutuk/DOC ayam pedaging dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis + 1 – 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama). Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4.
Hari ke 8 -14
Pemeliharaan pada tahap ini minggu masih memerlukan pengawasan seperti minggu- 1, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan ayam pedaging untuk minggu ke- 2 adalah 33 gr per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.
Hari ke 15-21
Pada tahap ini pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 48 gr per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam pedaging tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyak-banyaknya. Perlakuan vaksin tersebut juga tetap ditambah POC NASA atau VITERNA Plus dengan dosis tetap.
Hari ke 22-28
Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal
mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam pedaging juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.
Hari ke 29-35
Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan ayam pedaging adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 – 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen.
Hari ke-36-42
Jika ingin diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam pedaging dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg.

Penyakit
Penyakit yang sering menyerang ayam pedaging / broiler yaitu :
Infectious Bursal Disease/IBD ( Gumboro )
Merupakan penyakit ayam pedaging yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.

Berak Kapur (Pullorum).
Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam pedaging diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum.
Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang.
Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik. Pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ayam, ketahanan tubuh ayam, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Untuk hasil lebih optimal, pemberian POC NASA dapat dicampur dengan Hormonik dosis 1 botol POC NASA dicampur dengan 1-2 tutup botol Hormonik, atau 1 botol POC NASA dicampur dengan 2-4 kapsul Asam Amino.

Newcastle Disease/ND ( Tetelo )
Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam pedaging sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 – 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.
Chronic Respiratory Disease ( Penyakit Ngorok )
Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam pedaging sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.

Sanitasi Kandang ayam pedaging
Sanitasi kandang harus dilakukan setiap kali setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, tahap 1 : yaitu pencucian kandang ayam pedaging dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap 2: yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: