MENDIRIKAN PERUMAHAN UNTUK PENGEMBANG KECIL


Rumah merupakan salah satu kebutuhan  penting selain sandang, bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia rumah dan sandang menjadi kebutuhan pokok. Kenaikan jumlah penduduk di Indonesia yang cukup besar mengakibatkan kebutuhan akan rumah belum bisa dipenuhi oleh pengembang yang ada selama ini ada karena itu perlu kiranya menumbuhkan pengusaha-pengusaha baru perumahan dan pada akhirnya pengembang tersebut mampu membantu mensuplai kebutuhan rumah secara nasional.

Untuk menjadi pengusaha perumahan sebetulnya tidak dituntut mempunyai modal yang besar tapi lebih kepada kemampuan mengelola perusahaan secara baik dan efisien. Dengan modal dasar tanah yang mempunyai akses baik terhadap jalan dan keramaian serta kontur tanah yang relative rata, agar biaya pekerjaan tanah tidak besar, tanah tersebut bisa segera dibangun dan dijual, modal itu dulu sebetulnya cukup untuk membuat sebuah perumahan.

Tanah sebagai modal dasar inipun sebetulnya tidak  harus dipunyai sendiri atau dibeli secara langsung, tapi bisa saja bekerjasama dengan pemilik tanah dengan pola tertentu seperti:

1. Bagi Hasil, tanah yang akan dibuat perumahan dinilai harganya sesuai dengan kesepakatan kemudian pemilik tanah diberi keuntungan sesuai dengan prosentasi modal tanah yang dipunyai tersebut.

2. Saham, pemilik tanah dan pemilik perusahaan melebur menjadi satu dalam satu pengurusan di perusahaan dengan pembagian saham sesuai dengan kesepakatan baru.

3. Pembelian Tanah, pembelian tanah dengan pola pembayaran setelah tanah tersebut dikembangkan dan pembayaran tanahnya berdasarkan tanah yang sudah dibeli oleh konsumen (kalau rumah yang dijual sudah laku).

Setelah permasalahan tanah selesai perencanaan kawasan perumahan juga harus dilaksanakan dengan hati-hati, ini dimaksudkan agar biaya yang dikeluarkan di depan sangat kecil sehingga cash flow perusahaan bisa berjalan tanpa modal yang terlalu besar, salah satu cara untuk melakukan penghematan adalah dengan membuat cluster untuk kawasan tersebut, bila tanahnya luas bisa dibuat beberapa cluster dan bila tidak memungkinkan cukup dibuat satu cluster saja, keuntungan sistim cluster:

1. Menghemat biaya sarana dan prasarana, sarana dan prasarana yang dikerjakan sebatas kebutuhan satu cluster saja.

2. Memudahkan penjualan dan pembangunan karena penjualan dan pembangunan dibatasi dulu dalan satu cluster.

3. Mudah untuk membuat tema perumahan dan memungkinkan lebih dari satu tema di perumahan tersebut.

Setelah perencanaan selesai untuk memasarkan rumah sebaiknya menujuk agen penjualan, selain penjualan rumah bisa ditangani oleh tenaga-tenaga yang berpengalaman dibidangnya langkah ini juga dimaksudkan untuk mengubah biaya tetap (fix cost) yang digunakan untuk membayar sales menjadi biaya variable (variable cost) dalam bentuk fee sales.

Dalam melakukan pembangunan juga sebaiknya menggunakan kontraktor selain agar biaya tetapnya berkurang dan diubah menjadi biaya variable juga kontrol pengeluaran dana bisa dijadwalkan dengan baik  apabila rumah-rumah sudah banyak pembelinya.

Langkah terakhir yang sangat penting adalah kerjasama dengan bank pemberi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) agar dapat diberi KPR yang dicairkan sebelum selesai dibangun atau bahkan progress 0% sudah bisa dilakukan pengikatan KPR. Kerjasama ini sangat penting karena dengan adanya pencairan KPR di depan atau sebelum bangunan selesai dibangun perusahaan sudah cukup modal untuk membangun rumah-rumah yang telah dibeli oleh konsumen.

Dikutip dari : mastono.info

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: